|
Sisi Kelam
Sejarah II
Orde Baru Tutupi Skandal Purwodadi Selasa, 22 November 2011 - 19:31:14 WIB
Dua bulan menjadi kontroversi di media massa, kasus
pembunuhan massal di Purwodadi lenyap begitu saja.
|
|
SEJAK diungkapnya kasus Purwodadi oleh Poncke Princen,
muncul berbagai pendapat pro dan kontra. Menurut Poncke, jumlah korban
pembantaian mencapai dua ribu orang yang tersebar di beberapa daerah di
wilayah Grobogan. Bahkan menurutnya dalam satu malam pernah terjadi
pembunuhan terhadap 850 orang sekaligus. Banyak pihak yang meragukan
keterangan Poncke, namun tak sedikit pula yang berada di pihaknya.
Sebagian aktvis di luar negeri, khususnya di Belanda,
mengutuk keras aksi kejahatan itu. Prof. Jan Pluvier, guru besar sejarah Asia
Tenggara, kolega Wertheim dalam wawancara pada Maret 2007 lampau di
kediamannya di Heideweg No 5, Soest, Belanda mengatakan keterlibatannya dalam
gerakan menentang Orde Baru berangkat dari solidaritasnya kepada rakyat
Indonesia yang ditindas oleh Suharto. “Saya mendengar berita tentang
pembunuhan massal itu dan saya menentang Suharto yang menginjak-injak
kemanusiaan,” kata dia.
Berbeda dengan Jan Pluvier, Wertheim dan para
Indonesianis lain yang umumnya mengecam rezim Orde Baru, Presiden World
Veteran Federation (WVF) W. Ch. J.M. van Lanschot justru memperlihatkan sikap
mendukung Orde Baru. Ia datang ke Indonesia disertai dua orang redaktur
majalah Elsevier, Martin W. Duyzings dan Drs. A. Hoogendijk. Dalam
kunjungannya itu, mereka menemui Menteri Penerangan Budiardjo. Mereka sepakat
bahwa tidak ada gunanya membesar-besarkan kasus Purwodadi.
Dunia Barat, pascapergolakan politik 1965 dan transisi
kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto, semakin gencar mendekati Indonesia.
Ekonomi yang porak-poranda akibat situasi politik dalam negeri yang tidak
stabil selama tahun-tahun terakhir kekuasaan Sukarno menjadi alasan utama
bagi pemerintah Soeharto untuk mengundang investasi luar negeri ke Indonesia.
Undang-undang Penanaman Modal
Asing No. 1/1967 diberlakukan untuk melempangkan jalan masuk modal asing. Tim
ekonomi yang dipimpin oleh Menko Ekuin Sri Sultan Hamengkubuwono IX gencar
melakukan lobi ke luar negeri.
Sebuah
iklan di koran The New York Times edisi 17 Januari 1969, sebulan
sebelum terungkapnya peristiwa Purwodadi, berbunyi: “5 Years From Now You
Could Be Sorry You Didn’t Read This Ad”. Iklan yang ditandatangani oleh
Sri Sultan Hamengkubuwono IX tersebut mempromosikan Indonesia sebagai negeri
yang terbuka terhadap investasi sekaligus menjamin investor Amerika Serikat
untuk menanamkan modalnya di Indonesia. “Untuk membuat investasi di negeri
kami semakin bergairah, kami telah meloloskan sebuah undang-undang penanaman
modal asing yang menawarkan beberapa insentif seperti pembebasan pajak
perusahaan dan pajak atas deviden selama lima tahun,” demikian kata iklan
itu. Salah satu perusahaan Amerika Serikat yang memanfaatkan Undang-Undang
tersebut adalah Freeport yang beroperasi sejak 1967 di Papua.
Peristiwa
Purwodadi menjadi batu sandungan pertama di kala pemerintah Soeharto
berbenah, merias wajah Indonesia yang baru dan bebas dari komunisme. Berbagai
cara dilakukan untuk meredam eskalasi berita pembantaian massal di Purwodadi.
Tak lama setelah terungkapnya pembunuhan massal di Purwodadi, penguasa
militer di Jawa Tengah bersikap reaktif dengan mengawasi setiap pendatang ke
ibukota Kabupaten Grobogan itu. Setiap orang luar yang hendak memasuki kota harus
mendapat izin dari tentara. Mengenai hal ini, Harian Sinar Harapan,
edisi 9 Maret 1969 melaporkan: Ketika memasuki daerah itu para wartawan
diwajibkan terlebih dahulu melapor ke Penerangan Kodam VII/ Diponegoro. Sesudah itu harus pula minta ijin pada Asisten I dan
diberikan surat. Kemudian baru melaporkan diri pada Komandan Kodim setempat.
Ketika para wartawan tersebut memasuki kota Purwodadi, kelihatannya
masyarakat Purwodadi nampak suasana ketakutan.
Meningkatnya
pengawasan membuat situasi kota Purwodadi makin mencekam. Masyarakat tak
leluasa menjalankan aktivitasnya, lebih-lebih pada malam hari. Mereka
khawatir dituduh tentara sebagai anggota Gerilya Politik (Gerpol) PKI atau
“PKI Malam”.
Panglima
Kodam (Pangdam) VII/Diponegoro Mayor Jenderal Surono membantah terjadinya
pembantaian massal dalam kasus Purwodadi. Dia mengatakan berita tersebut
tidak benar. Dia curiga kabar tersebut menjadi bagian perang urat syaraf yang
dilancarkan oleh “PKI Malam”. Dia malah balik menuding bahwa semua tuduhan
itu semata-mata ditujukan untuk mengganggu stabilitas keamanan yang sedang
dibangun oleh pemerintah Orde Baru.
Sementara
itu Gubernur Jawa Tengah Munadi langsung mengundang seluruh wartawan baik
luar maupun dalam negeri untuk hadir dalam konferensi pers yang digelar pada
4 Maret 1969 di Restoran Geliga, Jakarta. Pada pertemuan itu, dia membantah
temuan Princen, bahkan menuduh Princen sebagai komunis (Kompas, 5
Maret 1969 dan Indonesia Raya, 6 Maret 1969). Dalam keterangan persnya
Munadi mengatakan,“yang dipersoalkan sekarang adalah tahun 1968. karena tahun
1965 tidak terkontrol. Saya minta supaya dibatasi pada tahun 1968 saja. Kalau
orang itu ditembak berjejer itu tidak mungkin.Tapi kalau dalam operasi
ada orang yang ditangkap, tapi kemudian coba-coba lari dan diberi peringatan
tapi tidak mengindahkan, mungkin saja ditembak.” (Kompas, 5 Maret
1969).
Bantahan
Munadi didukung oleh Frank Palmos dari Melbourne Herald dan Judy
Williams dari New York Times yang mengatakan tidak ditemukan adanya
tanda-tanda telah terjadi pembunuhan massal di daerah Kuwu-Purwodadi dan
daerah sekitarnya. Munculnya berita yang memperkuat pernyataan Munadi,
membuat Princen kian tersudut dan semakin santer diberitakan bahwa dia
seorang komunis.
Merasa
dirugikan oleh Munadi, Poncke menggugatnya ke Kejaksaan Agung dan
mendaftarkan kasusnya sebagai pencemaran nama baik. Kepada wartawan Poncke
mengatakan bahwa dia rela dituduh komunis, asalkan dapat membantu orang-orang
tak berdosa. Akhirnya Poncke ditahan dan interogasi oleh Kopkamtib dengan tuduhan
terlibat dalam gerakan komunis. Kepadanya ditanyakan tentang hubungannya dengan kaum
komunis, baik di negeri Belanda maupun di Indonesia. Menjawab pertanyaan
wartawan seusai interogasi, ia mengatakan, “Saya hanya mengkonstatir adanya
suatu penyelewengan yang perlu ditindak. Hal ini segera saya telah sampaikan
kepada Presiden Soeharto sekembalinya dari Jawa Tengah sebagai seorang
patriot. Kami bukanlah seorang sentimentalis naif, tapi sebenarnya justru
dengan terjadinya pembunuhan-pembunuhan bergelombang di Purwodadi telah lebih
menguntungkan kaum komunis”. (Sinar Harapan, 7 Maret 1969)
Poncke juga mengatakan bahwa dia sangat jengkel pada
orang-orang yang menuduhnya komunis. Mereka seolah lupa bahwa di “zaman
Nasakom” mereka itulah yang justru paling getol bekerjasama dengan komunis.
Tidak jelas siapa yang dimaksudkan Poncke dengan “orang-orang” yang
menuduhnya sebagai komunis, mengingat hanya ada satu orang yang menyebut
dirinya sebagai komunis, yakni Gubernur Jawa Tengah Munadi.
Sementara itu beberapa tokoh yang memiliki kedekatan
secara pribadi dengan Poncke berusaha membelanya dengan menjelaskan siapa
Poncke sebenarnya. Wartawan Belanda Henk Kolb meyakini bahwa pembunuhan
massal di Purwodadi itu memang benar, dan dia yakin keterangan Poncke tidak
memuat kepentingan apa pun selain demi kemanusiaan. Dia juga menjelaskan
bahwa berita yang dimuat di korannya di Belanda bukanlah rekayasa. Selain
Henk Kolb, Mayor Jenderal Kemal Idris, Panglima Komando Antar Daerah
Indonesia Timur yang juga bekas atasan Princen, juga memberikan pembelaan
dengan mengatakan bahwa Princen bukan komunis seperti yang dituduhkan Munadi
(Indonesia Raya, 8 Maret 1969).
Panglima Angkatan Darat (Pangad) Jenderal M.
Panggabean, seusai Rapat Komando Angkatan Darat pada 7 Maret 1969 mengatakan
persoalan Purwodadi bisa diselesaikan “tanpa perlu rame-rame.” Dia
juga menolak dengan tegas jika ada yang mengatakan kalau Angkatan Darat
tukang bunuh orang. Jika memang ada jatuh korban, itu konsekuensi dari
operasi militer yang sedang dilakukan oleh Kodam VII/Diponegoro (Sinar
Harapan, 9 Maret 1969). Selanjutnya Panggabean menyatakan bahwa Kopkamtib
sedang menyusun sebuah tim untuk menyelidiki kasus Purwodadi.
Sehubungan dengan rencana kunjungan Soeharto ke luar
negeri pada medio 1969 dan untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan
selama kunjungannya maka dia meminta Menteri Penerangan Budiardjo meninjau
langsung ke Purwodadi. Soeharto mulai terusik dengan adanya berita-berita
pembunuhan massal itu. Seperti laporan sebelumnya, Budiardjo pun melaporkan
tidak ada bukti pembunuhan massal di Purwodadi.
Di tengah kesimpang-siuran berita yang tak menentu,
para wartawan mendesak agar diizinkan melihat langsung kondisi di Purwodadi.
Desakan itu ditanggapi Pangdam VII/ Diponegoro, Mayjen. Surono dengan mengundang
beberapa wartawan, baik dari luar maupun dalam negeri, “Silahkan menceknya
sendiri” ujar Pangdam. Namun kenyataan di lapangan tidak demikian, beberapa
wartawan dari Jakarta dipaksa untuk pulang setelah sempat melakukan liputan.
Tidak seperti yang sering tersiar bahwa operasi
pembasmian komunis dilancarkan kepada mereka yang tak bertuhan, di Purwodadi
beberapa guru Katolik kena getahnya. Kalangan umat Katolik Jawa Tengah yang
dipimpin oleh Brigjen. dr. Soerojo berupaya keras untuk menyelamatkan tujuh
guru agama Katolik yang ditahan dalam penggerebekan di Pastoran Purwodadi,
mereka adalah Drs. Ngaini Imam Marsudi, Siswadi, B.A, Sutiono, B.A, Harnold,
B.A, Djaswadi, Sumarta, Sri Mulyono, Pardan, Imam Sutikno, Rusdiono, Bambang
Dasdiun, Bakri, dan Limaran (tewas). Soerojo
mengirim sebuah dokumen penting kepada Presiden Soeharto yang dititipkan
melalui wartawan New York Times, Judy Williams. Namun tidak diketahui
apa isi dokumen itu.
|
BERJUANG MENEGAKKAN KEBENARAN DAN KEADILAN BAGI KORBAN PELANGGARAN HAM BERAT 1965 DAN LAIN-LAINNYA. (STRUGGLE TO UPHOLD THE TRUTH AND JUSTICE FOR THE VICTIMS OF HUMAN RIGHTS VIOLATION IN 1965 AND OTHERS). http://lembaga-pembela-korban-1965.blogspot.com (sementara) E-mail: lbgpk.enamlima@gmail.com
Wednesday, 30 November 2011
ORDE BARU TUTUPI SKANDAL PURWODADI
Tak
Merasakan Kemerdekaan di Negeri Ini
KOMPAS, Kamis, 17 November 2011 | 05:07 AM
Kamar Petrus Bima Anugerah berukuran sekitar 2 meter x 2,5 meter yang terletak di pojok belakang rumah kini telah menjadi gudang. Sebuah tempat tidur dan bilah-bilah kayu yang dipasang di tembok bercat biru muda itu dipenuhi buku-buku lama.
”Dulu, Bima dan teman-temannya biasa berdiskusi di sini,” cerita Dionisius Utomo Rahardjo (66), ayah Bimo—begitu panggilan Petrus Bima—di rumahnya di sebuah gang agak menurun di Jalan Tumenggung Suryo, Malang, Jawa Timur. Rabu (2/11) pagi itu, ia bersiap berangkat ke Jakarta naik kereta ekonomi pukul 14.00. Utomo diundang Komnas HAM untuk diberi surat keterangan status korban penghilangan orang secara paksa periode 1997-1998. ”Saya disuruh naik pesawat. Tapi, untuk apa saya naik pesawat kalau tidak ada solusi nyata, bagaimana nasib anak saya yang hilang,” katanya.
Menurut laporan Komnas HAM, Petrus Bima diduga diculik Tim Mawar. Ia sudah lama diincar pihak intelijen karena dianggap menjadi simpul utama yang mengetahui jaringan dan kontak aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) saat itu. Ada deretan pihak yang bertanggung jawab, dari sembilan anggota Tim Mawar, Kopassus, hingga Panglima ABRI dan Presiden Soeharto.
”Sudah 13 tahun tujuh bulan,” kata Utomo. Ia dan istrinya, Misiati (69), mengaku sudah lelah. Namun, mereka tidak akan pernah menyerah. Sedih, tetapi tidak terlarut dalam kesedihan. ”Hanya kekuatan dari Yang Maha Kuasa yang bisa membuat kami bertahan,” kata Utomo.
Saat menceritakan putra keduanya (dari empat bersaudara) itu, Utomo dan Misiati tanpa ekspresi marah dan sedih berlebihan. Tampak tenang, tetapi tak tergoyahkan. Saat ditanya apakah waktu telah menggerus kesedihannya, Misiati yang duduk di kursi yang busanya sudah melesak ke dalam menjawab pelan, ”Itu, kan, anak saya.”
Misiati mengenang Bima sebagai anak yang tidak pernah membawa obrolan soal politik ke rumah. Dari Jakarta, Bima kerap menulis surat kepada sang ibu. ”Di balik gedung-gedung tinggi Jakarta, banyak sekali orang-orang tidak makan… Itulah yang kuperjuangkan, Bu,” tulis Bima dalam suratnya.
Utomo dan Misiati berpegang pada rekomendasi yang dikeluarkan Pansus DPR tentang Orang Hilang 1997-1988. Rekomendasi itu adalah pembentukan pengadilan HAM ad hoc, pencarian 13 orang yang oleh Komnas HAM dinyatakan hilang, rehabilitasi dan kompensasi terhadap keluarga korban, ratifikasi Konvensi Anti-penghilangan Paksa.
Surat rekomendasi itu sudah disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejak akhir 2009, tetapi hingga kini belum ada tanggapan. Mantan Ketua Pansus Effendi Simbolon mengatakan, kuncinya memang tinggal pada iktikad Presiden Yudhoyono untuk menyelesaikan masalah itu. Menurut Effendi, pemerintah seharusnya membentuk pengadilan HAM ad hoc untuk menuntaskan masalah itu secara hukum yang adil. ”Presiden SBY jangan hanya buat citra sebagai pembela HAM di mata internasional, tapi tidak menyelesaikan masalah ini dan jadi catatan permanen sepanjang masa,” ujar Effendi.
Utomo ingin anaknya dicari. Kalaupun Bima sudah meninggal, ia ingin ada kepastian. Selama ini, mereka seperti diambang-ambang tak berdaya. ”Saya ingin tahu kenapa Bima harus dibunuh. Dia anak muda, dia tak berdaya, dia diikat, ditahan tentara. Kalau dia dibilang melawan, mana bisa dia melawan? Kami ingin tahu kapan dan di mana dia meninggal,” kata Misiati.
Utomo tahu, para keluarga korban yang jumlahnya 12 orang berhadapan dengan tembok kekuasaan besar dengan jalinan politik dan kepentingan yang rumit. Ia sadar, ada latar politik yang rumit ketika tahun 1998 dan berlanjut pada saat ini. Bahwa pelaku bisa saja prajurit rendahan yang harus taat kepada perintah atasan. Namun, ia hanya minta kepastian, bagaimana nasib Bima. ”Saya dan keluarga saya tidak merasakan kemerdekaan di negara ini,” katanya.
Utomo dan Misiati masih terus menunggu. Bolak-balik ke Jakarta dijalani Utomo walau menguras keuangan dan fisiknya. Pernah ada pihak yang menawarkan supaya para keluarga korban bisa berdamai dengan ganti rugi uang saja. Serta-merta Utomo dan para keluarga korban lainnya menolak. ”Saya kirim SMS ke orang-orang yang mengusulkan itu untuk minum obat sakit jiwa. Mereka bilang agar saya jangan terlalu keras. Tapi, saya bilang, saya tidak akan menukar anak saya dengan uang darah,” katanya.
Tak ada dukungan teman
Utomo bercerita, teman-teman Bima, yang dulu aktif di PRD bahkan ikut jadi korban penculikan, tidak ikut memberi dukungan politik bagi Utomo dan keluarga untuk memperoleh kejelasan nasib Bimo. Hanya Mugianto yang saat ini Ketua Ikatan Orang Hilang yang masih berjuang bersama para korban.
Menurut Utomo, mantan Ketua Umum PRD Budiman Sudjatmiko yang kini jadi anggota PDI-P juga tidak pernah berusaha mengontak balik. Pernah juga ia mengirimkan SMS kepada Andi Arief, teman Bima di Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi—bagian dari PRD—yang kini staf khusus Presiden. ”Sempat ia balas beberapa kali, tapi waktu saya bilang dari Pak Utomo, dia tidak pernah membalas lagi,” katanya.
Sekitar tiga tahun lalu, musibah menimpa keluarga itu sehingga mereka harus terlilit utang. Tiga anaknya yang lain pun masih harus berusaha dari bawah. Awalnya, pasangan itu tidak ingin menceritakan bagaimana mereka mengatur keuangan karena harus kerap bolak-balik ke Jakarta. Utomo, setelah mendapat persetujuan Misiati, akhirnya bercerita, dirinya menggadaikan rumah dan pensiunnya. Kini, pemasukan mereka hanya Rp 317.000, sisa dari pensiun.
Usman Hamid dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan menyoroti cinta yang besar Utomo dan Misiati kepada anaknya yang membuat mereka tidak menyerahkan harapan. ”Begitulah seharusnya kita semua hidup, dengan hati,” kata Usman.
KOMPAS, Kamis, 17 November 2011 | 05:07 AM
Kamar Petrus Bima Anugerah berukuran sekitar 2 meter x 2,5 meter yang terletak di pojok belakang rumah kini telah menjadi gudang. Sebuah tempat tidur dan bilah-bilah kayu yang dipasang di tembok bercat biru muda itu dipenuhi buku-buku lama.
”Dulu, Bima dan teman-temannya biasa berdiskusi di sini,” cerita Dionisius Utomo Rahardjo (66), ayah Bimo—begitu panggilan Petrus Bima—di rumahnya di sebuah gang agak menurun di Jalan Tumenggung Suryo, Malang, Jawa Timur. Rabu (2/11) pagi itu, ia bersiap berangkat ke Jakarta naik kereta ekonomi pukul 14.00. Utomo diundang Komnas HAM untuk diberi surat keterangan status korban penghilangan orang secara paksa periode 1997-1998. ”Saya disuruh naik pesawat. Tapi, untuk apa saya naik pesawat kalau tidak ada solusi nyata, bagaimana nasib anak saya yang hilang,” katanya.
Menurut laporan Komnas HAM, Petrus Bima diduga diculik Tim Mawar. Ia sudah lama diincar pihak intelijen karena dianggap menjadi simpul utama yang mengetahui jaringan dan kontak aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) saat itu. Ada deretan pihak yang bertanggung jawab, dari sembilan anggota Tim Mawar, Kopassus, hingga Panglima ABRI dan Presiden Soeharto.
”Sudah 13 tahun tujuh bulan,” kata Utomo. Ia dan istrinya, Misiati (69), mengaku sudah lelah. Namun, mereka tidak akan pernah menyerah. Sedih, tetapi tidak terlarut dalam kesedihan. ”Hanya kekuatan dari Yang Maha Kuasa yang bisa membuat kami bertahan,” kata Utomo.
Saat menceritakan putra keduanya (dari empat bersaudara) itu, Utomo dan Misiati tanpa ekspresi marah dan sedih berlebihan. Tampak tenang, tetapi tak tergoyahkan. Saat ditanya apakah waktu telah menggerus kesedihannya, Misiati yang duduk di kursi yang busanya sudah melesak ke dalam menjawab pelan, ”Itu, kan, anak saya.”
Misiati mengenang Bima sebagai anak yang tidak pernah membawa obrolan soal politik ke rumah. Dari Jakarta, Bima kerap menulis surat kepada sang ibu. ”Di balik gedung-gedung tinggi Jakarta, banyak sekali orang-orang tidak makan… Itulah yang kuperjuangkan, Bu,” tulis Bima dalam suratnya.
Utomo dan Misiati berpegang pada rekomendasi yang dikeluarkan Pansus DPR tentang Orang Hilang 1997-1988. Rekomendasi itu adalah pembentukan pengadilan HAM ad hoc, pencarian 13 orang yang oleh Komnas HAM dinyatakan hilang, rehabilitasi dan kompensasi terhadap keluarga korban, ratifikasi Konvensi Anti-penghilangan Paksa.
Surat rekomendasi itu sudah disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejak akhir 2009, tetapi hingga kini belum ada tanggapan. Mantan Ketua Pansus Effendi Simbolon mengatakan, kuncinya memang tinggal pada iktikad Presiden Yudhoyono untuk menyelesaikan masalah itu. Menurut Effendi, pemerintah seharusnya membentuk pengadilan HAM ad hoc untuk menuntaskan masalah itu secara hukum yang adil. ”Presiden SBY jangan hanya buat citra sebagai pembela HAM di mata internasional, tapi tidak menyelesaikan masalah ini dan jadi catatan permanen sepanjang masa,” ujar Effendi.
Utomo ingin anaknya dicari. Kalaupun Bima sudah meninggal, ia ingin ada kepastian. Selama ini, mereka seperti diambang-ambang tak berdaya. ”Saya ingin tahu kenapa Bima harus dibunuh. Dia anak muda, dia tak berdaya, dia diikat, ditahan tentara. Kalau dia dibilang melawan, mana bisa dia melawan? Kami ingin tahu kapan dan di mana dia meninggal,” kata Misiati.
Utomo tahu, para keluarga korban yang jumlahnya 12 orang berhadapan dengan tembok kekuasaan besar dengan jalinan politik dan kepentingan yang rumit. Ia sadar, ada latar politik yang rumit ketika tahun 1998 dan berlanjut pada saat ini. Bahwa pelaku bisa saja prajurit rendahan yang harus taat kepada perintah atasan. Namun, ia hanya minta kepastian, bagaimana nasib Bima. ”Saya dan keluarga saya tidak merasakan kemerdekaan di negara ini,” katanya.
Utomo dan Misiati masih terus menunggu. Bolak-balik ke Jakarta dijalani Utomo walau menguras keuangan dan fisiknya. Pernah ada pihak yang menawarkan supaya para keluarga korban bisa berdamai dengan ganti rugi uang saja. Serta-merta Utomo dan para keluarga korban lainnya menolak. ”Saya kirim SMS ke orang-orang yang mengusulkan itu untuk minum obat sakit jiwa. Mereka bilang agar saya jangan terlalu keras. Tapi, saya bilang, saya tidak akan menukar anak saya dengan uang darah,” katanya.
Tak ada dukungan teman
Utomo bercerita, teman-teman Bima, yang dulu aktif di PRD bahkan ikut jadi korban penculikan, tidak ikut memberi dukungan politik bagi Utomo dan keluarga untuk memperoleh kejelasan nasib Bimo. Hanya Mugianto yang saat ini Ketua Ikatan Orang Hilang yang masih berjuang bersama para korban.
Menurut Utomo, mantan Ketua Umum PRD Budiman Sudjatmiko yang kini jadi anggota PDI-P juga tidak pernah berusaha mengontak balik. Pernah juga ia mengirimkan SMS kepada Andi Arief, teman Bima di Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi—bagian dari PRD—yang kini staf khusus Presiden. ”Sempat ia balas beberapa kali, tapi waktu saya bilang dari Pak Utomo, dia tidak pernah membalas lagi,” katanya.
Sekitar tiga tahun lalu, musibah menimpa keluarga itu sehingga mereka harus terlilit utang. Tiga anaknya yang lain pun masih harus berusaha dari bawah. Awalnya, pasangan itu tidak ingin menceritakan bagaimana mereka mengatur keuangan karena harus kerap bolak-balik ke Jakarta. Utomo, setelah mendapat persetujuan Misiati, akhirnya bercerita, dirinya menggadaikan rumah dan pensiunnya. Kini, pemasukan mereka hanya Rp 317.000, sisa dari pensiun.
Usman Hamid dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan menyoroti cinta yang besar Utomo dan Misiati kepada anaknya yang membuat mereka tidak menyerahkan harapan. ”Begitulah seharusnya kita semua hidup, dengan hati,” kata Usman.
TAK ADA KATA PUTUS ASA
DALAM KAMUS HIDUPKU
Upacara pembebasan TAPOL
di pulau Buru itu berlangsung di lapangan kota
Namlea Buru Utara pada tanggal 20 Desember 1977. Aku termasuk tapol yang dibebaskan
pada pembebasan pertama waktu itu.
Namlea Buru Utara pada tanggal 20 Desember 1977. Aku termasuk tapol yang dibebaskan
pada pembebasan pertama waktu itu.
Aku tidak tahu berapa
orang yang dibebaskan dan dengan kapal apa aku dan rombonganku
itu diangkut ke Surabaya. Aku juga tak dapat mengenang berapa lama kami melayari lautan
dari Namlea ke Surabaya. Tanggal berapa aku sampai di Jakarta di KODIM Jakarta Selatan
Kebayoran pun aku tak ingat. Ya, sampai hari ini pun aku tak bisa mengingat kembali hari-
hari dan tanggalnya. Ya, biarlah tak apa. Aku hanya ingin mengingat dan mencatat apa yang
terjadi pada hari-hari ketika aku sampai di Jakarta.
itu diangkut ke Surabaya. Aku juga tak dapat mengenang berapa lama kami melayari lautan
dari Namlea ke Surabaya. Tanggal berapa aku sampai di Jakarta di KODIM Jakarta Selatan
Kebayoran pun aku tak ingat. Ya, sampai hari ini pun aku tak bisa mengingat kembali hari-
hari dan tanggalnya. Ya, biarlah tak apa. Aku hanya ingin mengingat dan mencatat apa yang
terjadi pada hari-hari ketika aku sampai di Jakarta.
Keadaan jasmaniku memang tidak sehat. Aku mengidap
penyakit paru-paru yang
umumnya teman-teman tapol menyebutnya KP (koch patient ?) dan malaria yang sudah
menahun. Tapi hatiku tetap tabah dan kukuat-kuatkan diriku untuk bisa bertemu kembali
dengan keluargaku. Keinginan untuk segera bertemu keluarga inilah yang memberi
semangat bertahan hidup terutama wajah ibuku yang mendekati usia 80 tahun dan kenyang
penderitaan dalam hidupnya tapi tak pernah mengeluh, anakku perempuan yang waktu itu
sudah berusia 16 tahun dan isteriku yang kuanggap wanita tercantik di dunia ini. Ya di
dunia ini hanya ada dua wanita yang punya sifat keibuan yaitu ibuku dan isteriku.
umumnya teman-teman tapol menyebutnya KP (koch patient ?) dan malaria yang sudah
menahun. Tapi hatiku tetap tabah dan kukuat-kuatkan diriku untuk bisa bertemu kembali
dengan keluargaku. Keinginan untuk segera bertemu keluarga inilah yang memberi
semangat bertahan hidup terutama wajah ibuku yang mendekati usia 80 tahun dan kenyang
penderitaan dalam hidupnya tapi tak pernah mengeluh, anakku perempuan yang waktu itu
sudah berusia 16 tahun dan isteriku yang kuanggap wanita tercantik di dunia ini. Ya di
dunia ini hanya ada dua wanita yang punya sifat keibuan yaitu ibuku dan isteriku.
Ibuku sejak muda mengikuti ayahku yang hidupnya
sepenuhnya mengabdi bagi
negeri tercinta ini sehingga pada waktu berada di tanah buangan Boven Digul menjadi
orang yang paling miskin tapi tak pernah mengeluh. Ibuku di tahun 1940 hanya punya
selembar kain dan selembar kebaya. Oom Sjahrir (Sutan Sjahrir yang pernah menjadi PM
Republik Indonesia) yang hubungannya sangat dekat dengan keluarga kami, dari tempat
pengasingtannya di Banda Neira mengirimkan pakaian-pakaian bekas yang katanya dari
keluarga Dr. Tjipto Mangunkusumo yang belum pernah kami kenal secara dekat. Ya,
lamunanku pada ibuku yang sangat kurindukan.
negeri tercinta ini sehingga pada waktu berada di tanah buangan Boven Digul menjadi
orang yang paling miskin tapi tak pernah mengeluh. Ibuku di tahun 1940 hanya punya
selembar kain dan selembar kebaya. Oom Sjahrir (Sutan Sjahrir yang pernah menjadi PM
Republik Indonesia) yang hubungannya sangat dekat dengan keluarga kami, dari tempat
pengasingtannya di Banda Neira mengirimkan pakaian-pakaian bekas yang katanya dari
keluarga Dr. Tjipto Mangunkusumo yang belum pernah kami kenal secara dekat. Ya,
lamunanku pada ibuku yang sangat kurindukan.
Kereta api yang kami naiki dari Surabaya berangkat pada
sore hari dan sampai di
stasiun Senen pada pagi keesokan harinya. Tapi tidak pagi sekali, sudah agak siang. Dengan
memakai caping petani dan menenteng tas pemberian PANGKOKAMTIB (maaf, aku tak
tahu presis, pemberian tas, sepatu dan sarung itu dari mana, katanya dari
PANGKOKAMTIB bapak yang baik hati pak Sudomo?) aku bersama rombongan naik truk
dari stasiun Senin ke KODIM Jakarta Selatan Kebayoranbaru.
stasiun Senen pada pagi keesokan harinya. Tapi tidak pagi sekali, sudah agak siang. Dengan
memakai caping petani dan menenteng tas pemberian PANGKOKAMTIB (maaf, aku tak
tahu presis, pemberian tas, sepatu dan sarung itu dari mana, katanya dari
PANGKOKAMTIB bapak yang baik hati pak Sudomo?) aku bersama rombongan naik truk
dari stasiun Senin ke KODIM Jakarta Selatan Kebayoranbaru.
Di KODIM Jakarta Selatan rupanya sudah banyak ibu-ibu
keluarga tapol yang menunggu
untuk menjemput. Di antaranya ada mas Ari teman lamaku. Ya, dia teman lamaku yang
sama-sama berjuang bertempur melawan kolonialis Belanda di th 1945. Bedanya hanya dia
tergabung dalam TP Jawa Tengah sedang aku di TRI Kalbar. Dia belum merasakan pedihnya
diterpa peluru sedang aku merasakan pedihnya peluru angrem dibokongku sebelah kiri. Aku
pernah dimarahi oleh anak buahku karena salah menentukan arah mundur pasukan,
sehingga dua hari tak makan hanya makan buah durian sampai mabuk durian. Aku geli
mengingat ketololanku waktu itu.
untuk menjemput. Di antaranya ada mas Ari teman lamaku. Ya, dia teman lamaku yang
sama-sama berjuang bertempur melawan kolonialis Belanda di th 1945. Bedanya hanya dia
tergabung dalam TP Jawa Tengah sedang aku di TRI Kalbar. Dia belum merasakan pedihnya
diterpa peluru sedang aku merasakan pedihnya peluru angrem dibokongku sebelah kiri. Aku
pernah dimarahi oleh anak buahku karena salah menentukan arah mundur pasukan,
sehingga dua hari tak makan hanya makan buah durian sampai mabuk durian. Aku geli
mengingat ketololanku waktu itu.
Kukira mas Ari datang untuk menjemputku, tetapi rupanya tidak.
Dia menjemput bung
Subronto K.Atmodjo yang sama-sama musikus.
Kutanya mas Ari, “apakah isteriku datang menjemputku?”
Jawabnya “tunggu saja, nanti juga datang.”
Ternyata sampai teman-teman yang terakhir sudah meninggalkan KODIM belum juga
keluargaku datang menjemput.
Petugas di Kodim mengatakan, kalau tak ada yang menjemput akan dibawa ke RTC
SALEMBA.
Subronto K.Atmodjo yang sama-sama musikus.
Kutanya mas Ari, “apakah isteriku datang menjemputku?”
Jawabnya “tunggu saja, nanti juga datang.”
Ternyata sampai teman-teman yang terakhir sudah meninggalkan KODIM belum juga
keluargaku datang menjemput.
Petugas di Kodim mengatakan, kalau tak ada yang menjemput akan dibawa ke RTC
SALEMBA.
Akhirnya datang seorang ibu, seorang nenek-nenek. Aku
tahu ibu itu ibu Sapar yang
puluhan tahun yang lalu pernah menjadi tetanggaku. Kutanya ibu itu akan menjemput
siapa. Ibu itu mengatakan akan menjemput anaknya yang dikiranya ikut bebas dalam
rombongan pertama itu.
puluhan tahun yang lalu pernah menjadi tetanggaku. Kutanya ibu itu akan menjemput
siapa. Ibu itu mengatakan akan menjemput anaknya yang dikiranya ikut bebas dalam
rombongan pertama itu.
Akhirnya ibu itu mengajakku pulang.
Di tengah perjalanan pulang ibu itu bercerita, bahwa
isteriku sudah bersuami lagi dan telah
mempunyai seorang anak laki-laki. Sekarang anak laki-laki itu sudah berumur 5 tahun.
Aku terdiam. Aku tak bisa berucap kata. Kemana aku harus menuju sekarang. Ke rumah
kontrakan isteriku yang kini sudah berisuamikankan orang lain atau ke mana? Akhirnya
kuputuskan untuk ke Pabrik Krupuk milik pak Giyanto yang juga kenalanku. Di sana
banyak tempat untuk pekerja-pekerja pabrik krupuk itu.
mempunyai seorang anak laki-laki. Sekarang anak laki-laki itu sudah berumur 5 tahun.
Aku terdiam. Aku tak bisa berucap kata. Kemana aku harus menuju sekarang. Ke rumah
kontrakan isteriku yang kini sudah berisuamikankan orang lain atau ke mana? Akhirnya
kuputuskan untuk ke Pabrik Krupuk milik pak Giyanto yang juga kenalanku. Di sana
banyak tempat untuk pekerja-pekerja pabrik krupuk itu.
Kebetulan hari itu pak Giyanto ada di rumah. Beliau
menerimaku dengan ramah dan
menceritakan tentang isteriku yang telah bersuami lagi dan tentang anakku. Kutanyakan
bagaimana tentang ibuku?
menceritakan tentang isteriku yang telah bersuami lagi dan tentang anakku. Kutanyakan
bagaimana tentang ibuku?
Beliau menceritakan, rumah ibuku telah hancur dihancurkan
oleh KAMI dan KAPI karena
letaknya bersebelahan dengan gudang buku Yayasan Pembaruan – penerbit dan toko buku
PKI. Dan kini ibuku tinggal di rumah famili ibuku.
letaknya bersebelahan dengan gudang buku Yayasan Pembaruan – penerbit dan toko buku
PKI. Dan kini ibuku tinggal di rumah famili ibuku.
Biarlah, untuk sementara aku tak mau berfikir banyak.
Kalau umurku masih panjang pasti
aku bisa menemukan ibuku.
Pak Giyanto memberi saran agar aku tinggal tenang saja dulu di rumahnya. “Mangan ora
mangan waton kumpul“ katanya.
aku bisa menemukan ibuku.
Pak Giyanto memberi saran agar aku tinggal tenang saja dulu di rumahnya. “Mangan ora
mangan waton kumpul“ katanya.
Tak lama setelah aku sampai di rumah pak Giyanto anakku
datang. Pakaiannya
separuh basah, katanya sedang mencuci pakaian dan mendengar aku pulang dia buru-buru
datang. Maaf, aku hentikan dulu mengetik. Aku tutup dulu pintu kamar. Tak kusadari aku
menangs sendiri sesenggukan mengetik kenangan ini. Ya, aku benar-benar menangis.
Sepintas berdiri di depanku ayahku Ramidjo yang tersenyum. Kowe nangis le? Mosok pejuang
nangis. Aku sing adoh lor adoh kidul ora tau nangis. Teruske olehe ngetik. Songsong hari depan.
Aku tersentak dari rasa trenyuhku dan aku memang harus meneruskan ceritaku.
“Mana ibumu ?” tanyaku.
“Ibu nanti juga ke sini.” Katanya.
separuh basah, katanya sedang mencuci pakaian dan mendengar aku pulang dia buru-buru
datang. Maaf, aku hentikan dulu mengetik. Aku tutup dulu pintu kamar. Tak kusadari aku
menangs sendiri sesenggukan mengetik kenangan ini. Ya, aku benar-benar menangis.
Sepintas berdiri di depanku ayahku Ramidjo yang tersenyum. Kowe nangis le? Mosok pejuang
nangis. Aku sing adoh lor adoh kidul ora tau nangis. Teruske olehe ngetik. Songsong hari depan.
Aku tersentak dari rasa trenyuhku dan aku memang harus meneruskan ceritaku.
“Mana ibumu ?” tanyaku.
“Ibu nanti juga ke sini.” Katanya.
Kira-kira setengah jam aku berbincang-bincang dengan
anakku. Dia sama sekali tidak
menangis. Dia kelihatan tegar dan hatinya teguh. Aku senang melihat sikapnya. Dia benar-
benar anakku dan cucu ayahku Ramidjo. Tidak mudah meneteskan air mata. Ya, aku
sungguh merasa bangga waktu itu. Aku mengharapkan di kemudian hari nanti dia mau
meneruskan cita-cita untuk membuat negeri ini negeri yang benar-benar gemah ripah loh
jinawi. Hanya setengah jam aku bertemu dia dan dia segera pamit pulang untuk meneruskan
pekerjaan rumahnya mencuci.
menangis. Dia kelihatan tegar dan hatinya teguh. Aku senang melihat sikapnya. Dia benar-
benar anakku dan cucu ayahku Ramidjo. Tidak mudah meneteskan air mata. Ya, aku
sungguh merasa bangga waktu itu. Aku mengharapkan di kemudian hari nanti dia mau
meneruskan cita-cita untuk membuat negeri ini negeri yang benar-benar gemah ripah loh
jinawi. Hanya setengah jam aku bertemu dia dan dia segera pamit pulang untuk meneruskan
pekerjaan rumahnya mencuci.
Aku berniat untuk berbaring di divan di sebelah meja
makan. Tapi sebelum itu datang
isteriku. Aku tidak mengatakan dia sebagai bekas isteriku sebab sampai detik ini pun aku
belum pernah mencereikan dia walaupun waktu itu dia telah bersuamikan orang lain.
Isteriku menangis sesenggukan, mukanya ditelungkupkan di lututku.
“Sudahlah”, kataku.
“Tak ada yang perlu disesalkan. Semua yang kita lakoni ini memang sudah garis hidup kita.
Aku tidak menyalahkanmu yang kawin lagi dengan orang lain. Buat apa mesti ditangisi apa
yang sudah lalu. Kalau bicara yang salah, akulah yang salah. Bertahun-tahun meninggalkan
keluarga. Tidak memberi nafkah dan malahan membebani tugas memelihara dan mengasuh
seorang anak. ‘Kan itu anak kita berdua dan yang seharusnya mengasuh dan membesarkan
kita berdua. Tapi aku, tanpa pamit mengikuti polisi – e, ya kok mau-maunya digelandang
polisi – padahal aku tidak mencuri, tidak berbuat kriminal.” Kataku.
isteriku. Aku tidak mengatakan dia sebagai bekas isteriku sebab sampai detik ini pun aku
belum pernah mencereikan dia walaupun waktu itu dia telah bersuamikan orang lain.
Isteriku menangis sesenggukan, mukanya ditelungkupkan di lututku.
“Sudahlah”, kataku.
“Tak ada yang perlu disesalkan. Semua yang kita lakoni ini memang sudah garis hidup kita.
Aku tidak menyalahkanmu yang kawin lagi dengan orang lain. Buat apa mesti ditangisi apa
yang sudah lalu. Kalau bicara yang salah, akulah yang salah. Bertahun-tahun meninggalkan
keluarga. Tidak memberi nafkah dan malahan membebani tugas memelihara dan mengasuh
seorang anak. ‘Kan itu anak kita berdua dan yang seharusnya mengasuh dan membesarkan
kita berdua. Tapi aku, tanpa pamit mengikuti polisi – e, ya kok mau-maunya digelandang
polisi – padahal aku tidak mencuri, tidak berbuat kriminal.” Kataku.
Isteriku makin menangis. Tapi aku waktu itu tetap tegar.
Tidak ada perasaan marah waktu
itu, tapi rasa benciku kepada Suharto dedengkot orde baru itu makin mendalam dan bahkan
rasa benci itu berubah menjadi mendendam.
itu, tapi rasa benciku kepada Suharto dedengkot orde baru itu makin mendalam dan bahkan
rasa benci itu berubah menjadi mendendam.
Apakah sekarang ini, waktu mengetik ini aku masih
mendendam Suharto? Jawabku tegas
‘tidak’. Aku tidak dendam dan tidak benci lagi. Rasa benci dan dendam kepada siapa pun
sudah kutenggelamkan dalam-dalam ke dasar samudera perasaanku yang paling dalam
melebihi dalamnya samudera mana pun.
‘tidak’. Aku tidak dendam dan tidak benci lagi. Rasa benci dan dendam kepada siapa pun
sudah kutenggelamkan dalam-dalam ke dasar samudera perasaanku yang paling dalam
melebihi dalamnya samudera mana pun.
Mengapa rasa benci dan dendam itu kutenggelamkan? Karena
rasa benci dan dendam
adalah bagaikan api dalam sekam yang akan membakar diri sendiri sehingga selalu merasa
resah, gelisah dan tak ada rasa pasrah.
adalah bagaikan api dalam sekam yang akan membakar diri sendiri sehingga selalu merasa
resah, gelisah dan tak ada rasa pasrah.
Isteriku akhirnya berhenti menangis. Kukatakan padanya
soal hari depan kita nanti kita
pikirkan. Aku belum bisa berfikir sekarang. Dan aku belum tahu apa yang harus kulakukan,
sebab aku sekarang ini dalam keadaan sakit.
“Sudahlah.” Kataku kepada isteriku.
“Yang penting kamu mau menandatangani surat penerimaan kepulanganku. Soal yang lain
nanti akan selesai dengan sendirinya. Allah maha mengetahui, dan Allah akan membimbing
kita di jalan yang benar.” Kataku dengan keyakinan penuh.
pikirkan. Aku belum bisa berfikir sekarang. Dan aku belum tahu apa yang harus kulakukan,
sebab aku sekarang ini dalam keadaan sakit.
“Sudahlah.” Kataku kepada isteriku.
“Yang penting kamu mau menandatangani surat penerimaan kepulanganku. Soal yang lain
nanti akan selesai dengan sendirinya. Allah maha mengetahui, dan Allah akan membimbing
kita di jalan yang benar.” Kataku dengan keyakinan penuh.
Malam itu aku mulai tidur di rumah pak Giyanto. Aku tidur
di ruang makan di divan yang
terletak di sebelah meja makan. Kupasang kelambu yang biasa kupakai di Pulau Buru.
Rupanya nyamuk Jakarta sama saja dengan nyamuk Buru. Gigitnya juga sama gatalnya
hanya bedanya di Jakarta tidak ada nyamuk malaria. Aku bisa tidur nyenyak.
Beberapa hari kemudian kuketahui temanku dr. W yang sama-sama belajar di Jepang
membuka praktek tidak jauh dari tempatku mondok. Sore itu aku ke kliniknya
memeriksakan kesehatanku.
terletak di sebelah meja makan. Kupasang kelambu yang biasa kupakai di Pulau Buru.
Rupanya nyamuk Jakarta sama saja dengan nyamuk Buru. Gigitnya juga sama gatalnya
hanya bedanya di Jakarta tidak ada nyamuk malaria. Aku bisa tidur nyenyak.
Beberapa hari kemudian kuketahui temanku dr. W yang sama-sama belajar di Jepang
membuka praktek tidak jauh dari tempatku mondok. Sore itu aku ke kliniknya
memeriksakan kesehatanku.
Akhirnya aku tetap berobat ke kliniknya.
Menurut dokter temanku itu, aku sulit disembuhkan kecuali
ada mujizat lain. Aku pasrah.
Kubeli kunyit, madu dan telur ayam. Setiap akan tidur kuminum air perasan kunyit
dicampur kuning telur dan madu dan sedikit garam. Kutekuni jamu ini setiap akan tidur,
dan dadaku selalu kugosok dengan reumason cream. Dada terasa hangat dan batuk-
batuknya berkurang. Sebulan telah berlalu dan aku merasa semakin bosan. Apa yang harus
kukerjakan. Mencari pekerjaan? Aku ini bisa apa? Dan apa ada orang yang mau
menerimaku bekerja dalam keadaan sakit?
Kubeli kunyit, madu dan telur ayam. Setiap akan tidur kuminum air perasan kunyit
dicampur kuning telur dan madu dan sedikit garam. Kutekuni jamu ini setiap akan tidur,
dan dadaku selalu kugosok dengan reumason cream. Dada terasa hangat dan batuk-
batuknya berkurang. Sebulan telah berlalu dan aku merasa semakin bosan. Apa yang harus
kukerjakan. Mencari pekerjaan? Aku ini bisa apa? Dan apa ada orang yang mau
menerimaku bekerja dalam keadaan sakit?
Anakku datang. Dia mampir sepulangnya dari sekolah.
Kutanya dia bagaimana pelajaran
hari ini dan lain-lain yang berhubungan dengan pelajaran di sekolah. Dia kelihatan senang
mendapat perhatian tentang pelajarannya. Akhirnya kutanya dia : “Apakah batu asahan
peninggalan simbah (ayahku maksudku) masih ada? Wungkal (batu asahan) itu ada di laci
lemari paling bawah.” Kataku.
Dia menjawab : “Ndak tahu.”
“Ya, coba cari wungkal itu. Wungkal itu wungkal halus dan kasar” Kalau ketemu tolong bawa
kemari, ya”, pintaku.
hari ini dan lain-lain yang berhubungan dengan pelajaran di sekolah. Dia kelihatan senang
mendapat perhatian tentang pelajarannya. Akhirnya kutanya dia : “Apakah batu asahan
peninggalan simbah (ayahku maksudku) masih ada? Wungkal (batu asahan) itu ada di laci
lemari paling bawah.” Kataku.
Dia menjawab : “Ndak tahu.”
“Ya, coba cari wungkal itu. Wungkal itu wungkal halus dan kasar” Kalau ketemu tolong bawa
kemari, ya”, pintaku.
Benar, keesokan harinya
anakku datang membawa sebuah batu asahan (wungkal). Wungkal
itu dibawa ayahku dari Australia sebelah wungkal kasar dan sebaliknya wungkal halus.
Wungkal itu sudah lumutan.
Kutanya anakku “kenapa wungkal ini lumutan begini?”
Jawabnya “ya, karena lama dipakai untuk bandulan timba mengambil air di sumur.”
“Tak apa, masih bisa dipakai”, jawabku.
Wungkal itu kubresihkan. Kucari sebuah botol kecil kuisi minyak tanah bercampur minyak
kelapa. Kucari lagi sobekan-sobekan baju kaos untuk lap. Nah, lengkap sudah. Kumasukkan
semuanya ke dalam tas plastik merah.
itu dibawa ayahku dari Australia sebelah wungkal kasar dan sebaliknya wungkal halus.
Wungkal itu sudah lumutan.
Kutanya anakku “kenapa wungkal ini lumutan begini?”
Jawabnya “ya, karena lama dipakai untuk bandulan timba mengambil air di sumur.”
“Tak apa, masih bisa dipakai”, jawabku.
Wungkal itu kubresihkan. Kucari sebuah botol kecil kuisi minyak tanah bercampur minyak
kelapa. Kucari lagi sobekan-sobekan baju kaos untuk lap. Nah, lengkap sudah. Kumasukkan
semuanya ke dalam tas plastik merah.
Keesokan harinya
mulailah aku dengan profesi baruku menjadi pengasah gunting dan
pengasah pisau, berkeliling di jalan-jalan sekitar daerah Menteng Jakarta Pusat. Hasilnya?
Lumayan. Aku bisa makan tanpa harus makan di tempat pondokanku walaupun ibu
Giyanto yang baik hati itu selalu menyediakan makanan untukku. Kukatakan kepada beliau
tak usah menyediakan makan lagi untukku karena biasanya aku makan di rumah teman.
Dan kalau aku pulang belum makan aku akan ambil sendiri.
pengasah pisau, berkeliling di jalan-jalan sekitar daerah Menteng Jakarta Pusat. Hasilnya?
Lumayan. Aku bisa makan tanpa harus makan di tempat pondokanku walaupun ibu
Giyanto yang baik hati itu selalu menyediakan makanan untukku. Kukatakan kepada beliau
tak usah menyediakan makan lagi untukku karena biasanya aku makan di rumah teman.
Dan kalau aku pulang belum makan aku akan ambil sendiri.
Tiga bulan sudah berlangsung sejak aku menjalankan
profesiku. Seperti biasa aku
meneriakkan “asah gunting, asah pisau” berkeliling di daerah gedongan “Menteng”. Di
Jalan Pekalongan di dekat rumah pak Chaerul Saleh - menteri dalam kabinet Gotong Royong
Bung Karno – aku dipanggil seseorang.
meneriakkan “asah gunting, asah pisau” berkeliling di daerah gedongan “Menteng”. Di
Jalan Pekalongan di dekat rumah pak Chaerul Saleh - menteri dalam kabinet Gotong Royong
Bung Karno – aku dipanggil seseorang.
O, rupanya seorang pembantu rumah tangga dengan
menggandeng anak perempuan kecil.
Kelihatannya seperti anak Tionghwa.
Pembantu itu menunjukkan sebilah pisau berwarna putih perak berkilat.
“Pak, tolong asah pisau ini bisa gak?” tanyanya.
“O, ini pisau sashimi. Ini masih cukup tajam”. Kataku terus terang.
“Ya, pak masih tajam. Tapi ini gompal sedikit. Apa bisa gompalnya dihilangkan?” tanyanya.
“Baiklah, tapi agak lama untuk meratakannya.” Kataku.
“Ongkosnya berapa?” tanyanya.
“Terserah, berapa saja. Saya tidak ngarani soal ongkos. Berapa sajalah, bisa baik atau tidak.”
Jawabku.
Kelihatannya seperti anak Tionghwa.
Pembantu itu menunjukkan sebilah pisau berwarna putih perak berkilat.
“Pak, tolong asah pisau ini bisa gak?” tanyanya.
“O, ini pisau sashimi. Ini masih cukup tajam”. Kataku terus terang.
“Ya, pak masih tajam. Tapi ini gompal sedikit. Apa bisa gompalnya dihilangkan?” tanyanya.
“Baiklah, tapi agak lama untuk meratakannya.” Kataku.
“Ongkosnya berapa?” tanyanya.
“Terserah, berapa saja. Saya tidak ngarani soal ongkos. Berapa sajalah, bisa baik atau tidak.”
Jawabku.
Mulailah aku mengasah dengan wungkal bagian yang kasar
untuk meratakan gompalnya.
Setelah betul-betul rata kuasah lagi dengan wungkal bagian halus. Rata sudah dan kucoba
untuk mencukur bulu kakiku. Sungguh, tajam sekali pisau itu. Aku sendiripun merasa puas
melihat ketajaman pisau itu.
Setelah betul-betul rata kuasah lagi dengan wungkal bagian halus. Rata sudah dan kucoba
untuk mencukur bulu kakiku. Sungguh, tajam sekali pisau itu. Aku sendiripun merasa puas
melihat ketajaman pisau itu.
Tengah pembantu itu
memberikan uang 500 rupiah sebuah mobil sedan TOYOTA CROWN
berhenti. Seorang nyonya keluar dari mobil dan langsung menhampiri. Nyonya itu melihat
pisaunya dan lalu mencobanya.
“Kore wa yoku kireru. Yokatta.” (ini tajam sekali. Syukurlah). Celotehnya.
“Sashimi wo kiru tame desu, ne?” (untuk memotong sashimi, bukan?) kataku.
“Hai, sashimi no tame desu. Nihon go dekimasu, ne.” (ya, untuk sashimi. Bisa bahasa Jepang, ya).
“Hai, dekimasu.” (ya, bisa) jawabku.
berhenti. Seorang nyonya keluar dari mobil dan langsung menhampiri. Nyonya itu melihat
pisaunya dan lalu mencobanya.
“Kore wa yoku kireru. Yokatta.” (ini tajam sekali. Syukurlah). Celotehnya.
“Sashimi wo kiru tame desu, ne?” (untuk memotong sashimi, bukan?) kataku.
“Hai, sashimi no tame desu. Nihon go dekimasu, ne.” (ya, untuk sashimi. Bisa bahasa Jepang, ya).
“Hai, dekimasu.” (ya, bisa) jawabku.
Kemudian terjadilah
dialog macam-macam dengan nyonya itu. Dia tanya tentang harga
daging dan lain-lain. Di tahun 1979 waktu itu belum ada super market seperti sekarang.
Biasanya orang asing membeli ikan atau daging di toko Kem Cik atau tempat-tempat belanja
tertentu.
Akhirnya nyonya itu bertanya : “Doko de Nihongo wo benkyou shita ka? (di mana anda belajar
bahasa Jepang)“
“Nihon no Waseda de benkyou shimashita”. (di Waseda univ. di Jepang) jawabku.
“Waseda.........?” nyonya itu bergumam lalu masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian
nyonya itu keluar bersama suaminya. Suaminya berkata “douzo, ohairi kudasai” – silakan
masuk.
daging dan lain-lain. Di tahun 1979 waktu itu belum ada super market seperti sekarang.
Biasanya orang asing membeli ikan atau daging di toko Kem Cik atau tempat-tempat belanja
tertentu.
Akhirnya nyonya itu bertanya : “Doko de Nihongo wo benkyou shita ka? (di mana anda belajar
bahasa Jepang)“
“Nihon no Waseda de benkyou shimashita”. (di Waseda univ. di Jepang) jawabku.
“Waseda.........?” nyonya itu bergumam lalu masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian
nyonya itu keluar bersama suaminya. Suaminya berkata “douzo, ohairi kudasai” – silakan
masuk.
Saya merasa agak malu
dengan cara tuan itu mempersilakan masuk. Caranya sangat sopan
sedang saya hanya seorang pengasah gunting.
Aku duduk di kursi tamu. Kemudian tuan itu memperkenalkan diri dan memberikan kartu
namanya.
Dalam tulisan ini sengaja saya tidak mau menyebutkan nama tuan itu karena waktu beliau
meninggakan Indonesia setahun kemudian beliau tidak mau memperkenalkan saya kepada
orang Jepang lain dan berarti bahwa beliau tidak mau dikenal namanya sebagai orang yang
pernah mengenal saya.
sedang saya hanya seorang pengasah gunting.
Aku duduk di kursi tamu. Kemudian tuan itu memperkenalkan diri dan memberikan kartu
namanya.
Dalam tulisan ini sengaja saya tidak mau menyebutkan nama tuan itu karena waktu beliau
meninggakan Indonesia setahun kemudian beliau tidak mau memperkenalkan saya kepada
orang Jepang lain dan berarti bahwa beliau tidak mau dikenal namanya sebagai orang yang
pernah mengenal saya.
Tuan itu menanyakan
mengapa saya sebagai orang yang pernah belajar di Waseda
University, universitas yang sangat terkenal di Jepang dan untuk ujian masuknya sangat
sulit, bekerja sebagai pengasah gunting dan pisau? Apakah pekerjaan itu dilakukan untuk
coverjob sebagai intelejen? Apakah dari BAKIN?
University, universitas yang sangat terkenal di Jepang dan untuk ujian masuknya sangat
sulit, bekerja sebagai pengasah gunting dan pisau? Apakah pekerjaan itu dilakukan untuk
coverjob sebagai intelejen? Apakah dari BAKIN?
Saya jawab, bahwa saya
adalah sampah. Sampah saja masih ada nilainya sebab sampah
masih bisa didaur ulang dan dijadikan pupuk. Tetapi orang-orang seperti saya adalah
sampah mati, sampah yang sangat tidak berguna. Ibarat penyakit, penyakut kusta atau lepra
yang siapa pun tak akan mendekat. Dan orang-orang seperti saya ini biasa dijadikan
kambing hitam.
masih bisa didaur ulang dan dijadikan pupuk. Tetapi orang-orang seperti saya adalah
sampah mati, sampah yang sangat tidak berguna. Ibarat penyakit, penyakut kusta atau lepra
yang siapa pun tak akan mendekat. Dan orang-orang seperti saya ini biasa dijadikan
kambing hitam.
Semula tuan itu tidak
juga bisa mengerti. Akhirnya saya berterus terang, bahwa saya baru
tiga bulan yang lalu bebas sebagai tahanan politik dari Pulau Buru.
Mendengar keteranganku, bahwa aku adalah tapol yang dibebaskan dari Pulau Buru tuan
itu bangkit berdiri. Kemudian dia membawa foto-foto dokumentasi pembebasan tapol Buru.
Dia menunjukkkan sebuah foto dan menanyakan apakah aku kenal foto itu. Aku jawab,
bahwa itu adalah foto ahli hukum terkenal Profesor Doktor Suprapto SH, jawabku. Berturut-
turut dia menunjukkan foto Subronto K. Atmodjo, Ferdinan Runturambi dll. Semuanya
memang kukenal karena kebetulan sama-sama satu unit di Unit XV Indrapura. Dan
kebetulan ada foto saya sendiri yang sedang memanggul bungkusan tikar dan mengenakan
caping bambu yang biasa dipakai waktu mencangkul.
tiga bulan yang lalu bebas sebagai tahanan politik dari Pulau Buru.
Mendengar keteranganku, bahwa aku adalah tapol yang dibebaskan dari Pulau Buru tuan
itu bangkit berdiri. Kemudian dia membawa foto-foto dokumentasi pembebasan tapol Buru.
Dia menunjukkkan sebuah foto dan menanyakan apakah aku kenal foto itu. Aku jawab,
bahwa itu adalah foto ahli hukum terkenal Profesor Doktor Suprapto SH, jawabku. Berturut-
turut dia menunjukkan foto Subronto K. Atmodjo, Ferdinan Runturambi dll. Semuanya
memang kukenal karena kebetulan sama-sama satu unit di Unit XV Indrapura. Dan
kebetulan ada foto saya sendiri yang sedang memanggul bungkusan tikar dan mengenakan
caping bambu yang biasa dipakai waktu mencangkul.
“Soo ka, soo ka. Kawai-soo-da. Komatta-ne.” (begitukah, susah, ya). Gumamnya.
Kemudia dia
berkata.
“Sayang, saya sudah punya asisten. Tapi begini saja. Bisa bantu saya tiga hari dalam
seminggu? Kalau mau silakan besok datang ke sini.”
Begitulah ceritanya.
berkata.
“Sayang, saya sudah punya asisten. Tapi begini saja. Bisa bantu saya tiga hari dalam
seminggu? Kalau mau silakan besok datang ke sini.”
Begitulah ceritanya.
Keesokan harinya aku
mulai bekerja. Semula aku hanya bekerja tiga kali seminggu yaitu hari
Senin, Rabu dan Jum’at. Tetapi kemudian aku bekerja penuh dalam seminggu dan hari
Sabtu dan Minggu libur.
Senin, Rabu dan Jum’at. Tetapi kemudian aku bekerja penuh dalam seminggu dan hari
Sabtu dan Minggu libur.
Tuan tempat aku bekerja itu sungguh berperi kemanusiaan.
Melihat aku dalam keadaan sakit dia berusaha membelikan obat-obatan dari Jepang dan
memberi vitamin yang saya anggap sangat baik. Nama vitamin itu “Popon S” dan ternyata
vitamin yang berisi B1, B6, B12, mineral dan unsur-unsur lainnya itu menambah daya tahan
tubuh yang luar biasa.
Melihat aku dalam keadaan sakit dia berusaha membelikan obat-obatan dari Jepang dan
memberi vitamin yang saya anggap sangat baik. Nama vitamin itu “Popon S” dan ternyata
vitamin yang berisi B1, B6, B12, mineral dan unsur-unsur lainnya itu menambah daya tahan
tubuh yang luar biasa.
Selain memberi vitamin berbentuk tablet, tuan itu hampir
setiap makan siang mengajakku
ke restoran Jepang dan aku diharuskan makan banyak makanan-makanan bergizi. Setiap
pergi tugas ke luar Jakarta, ke Bali, Sumatra dan tempat-tempat lainnya aku selalu diajak
serta. Kegemaranku memotret juga tersalur dan aku memang dulunya terbiasa memegang
kamera film. Ketika itu film masih hitam putih dan kameranya juga cukup berat tidak
seperti sekarang ini semuanya serba jadi. Tapi untunglah aku mampu dan bisa
mengerjakannya, dan aku pernah ikut membuat film perjalanan Marcopolo dari ujung utara
Sumatra (daerah Aceh) sampai ke Sumatra Selatan Tanjung Karang – Lampung dan
sekitarnya. Pernah di daerah Sumatra Barat masuk ke hutan untuk mencari tempat
tumbuhnya bunga Raflessa. Seorang di antara orang-orang Jepang yang ikut rombongan
kami memotret dan mengeluarkan rol-rol film dari kotaknya. Kotak-kotak dan kertas-kertas
bekas film yang sudah dipakai itu dimasukkan kembali ke dalam tas dan tidak dibuang
begitu saja padahal berada di dalam hutan. Sampah-sampah kotak dan kertas-kertas itu baru
dibuang di kotak sampah di hotel. Begitu hati-hatinya orang-orang Jepang itu menjaga
kebersihan lingkungan.
ke restoran Jepang dan aku diharuskan makan banyak makanan-makanan bergizi. Setiap
pergi tugas ke luar Jakarta, ke Bali, Sumatra dan tempat-tempat lainnya aku selalu diajak
serta. Kegemaranku memotret juga tersalur dan aku memang dulunya terbiasa memegang
kamera film. Ketika itu film masih hitam putih dan kameranya juga cukup berat tidak
seperti sekarang ini semuanya serba jadi. Tapi untunglah aku mampu dan bisa
mengerjakannya, dan aku pernah ikut membuat film perjalanan Marcopolo dari ujung utara
Sumatra (daerah Aceh) sampai ke Sumatra Selatan Tanjung Karang – Lampung dan
sekitarnya. Pernah di daerah Sumatra Barat masuk ke hutan untuk mencari tempat
tumbuhnya bunga Raflessa. Seorang di antara orang-orang Jepang yang ikut rombongan
kami memotret dan mengeluarkan rol-rol film dari kotaknya. Kotak-kotak dan kertas-kertas
bekas film yang sudah dipakai itu dimasukkan kembali ke dalam tas dan tidak dibuang
begitu saja padahal berada di dalam hutan. Sampah-sampah kotak dan kertas-kertas itu baru
dibuang di kotak sampah di hotel. Begitu hati-hatinya orang-orang Jepang itu menjaga
kebersihan lingkungan.
Aku mulai punya banyak kenalan orang-orang Jepang dan
mulailah aku mencari tambahan
penghasilan dengan mengajar bahasa Indonesia kepada orang-orang Jepang.
Kehidupanku mulai berubah. Aku bertambah sehat. Prenghasilanku lumayan dan akhirnya
aku bisa mengontrak sebuah rumah untuk 2 tahun. Aku berhasil mengumpulkan
keluargaku yang berserakan.
penghasilan dengan mengajar bahasa Indonesia kepada orang-orang Jepang.
Kehidupanku mulai berubah. Aku bertambah sehat. Prenghasilanku lumayan dan akhirnya
aku bisa mengontrak sebuah rumah untuk 2 tahun. Aku berhasil mengumpulkan
keluargaku yang berserakan.
Tinggallah kami sekeluarga, ibuku yang sudah 80 tahun,
isteriku, anakku (perempuan) yang
baru masuk SMA dan anakku laki-laki berumur 5 tahun dan aku. Aku beruntung mendapat
seorang anak laki-laki dari isteriku yang sempat bersuamikan orang lain. Jika tidak anakku
tentu hanya seorang sebab aku tidak akan mampu lagi untuk mendapatkan seorang anak
pun karena akibat penyiksaan dengan stroom listrik ketika diinterogasi membuat diriku i m
p o t e n yang hingga kini tak tersembuhkan.
baru masuk SMA dan anakku laki-laki berumur 5 tahun dan aku. Aku beruntung mendapat
seorang anak laki-laki dari isteriku yang sempat bersuamikan orang lain. Jika tidak anakku
tentu hanya seorang sebab aku tidak akan mampu lagi untuk mendapatkan seorang anak
pun karena akibat penyiksaan dengan stroom listrik ketika diinterogasi membuat diriku i m
p o t e n yang hingga kini tak tersembuhkan.
Apa yang harus kuucapkan? Sebagai seorang muslim aku
hanya bisa berucap Subhanallah.
Alhamdulillahirabbilalamin.
Alhamdulillahirabbilalamin.
Juga setiap selesai shalat aku selalu memanjatkan do’a
agar pak Harto panjang umur dan
sebagai penyebab dari semua derita yang kualami dan dialami oleh korban-korban peristiwa
G30S, mau kiranya menggunakan sisa hidupnya untuk bertaubat, bukan hanya bertaubat
kehadirat Allah tapi mengakui dosa-dosanya kepada Rakyat dan negeri tercinta ini dan
mengembalikan harta-harta yang sudah diambilnya. Maaf, semula saya ingin memakai kata
“dirampasnya” atau “dirampoknya” tapi kupikir kata-kata itu kasar dan tidak sopan dan
tidak lazim dipakai di zaman Bung Karno karena melanggar kode etik jurnalistik maka
kuganti dengan kata “diambilnya”.
sebagai penyebab dari semua derita yang kualami dan dialami oleh korban-korban peristiwa
G30S, mau kiranya menggunakan sisa hidupnya untuk bertaubat, bukan hanya bertaubat
kehadirat Allah tapi mengakui dosa-dosanya kepada Rakyat dan negeri tercinta ini dan
mengembalikan harta-harta yang sudah diambilnya. Maaf, semula saya ingin memakai kata
“dirampasnya” atau “dirampoknya” tapi kupikir kata-kata itu kasar dan tidak sopan dan
tidak lazim dipakai di zaman Bung Karno karena melanggar kode etik jurnalistik maka
kuganti dengan kata “diambilnya”.
Semoga saja pengalaman getir-pahit ini tidak terulang
kembali bagi generasi kini dan
selanjutnya.
selanjutnya.
Stop ! - bahasa
Jepangnya TOMARE ! - segala bentuk pelanggaran HAM.
Sekian
Tangerang, Senin Pahing
06 November 2006.
Sumber:
http://triramidjo.blogspot.com/Wednesday, 2 November 2011
YPKP 65:
LAPORAN PENELITIAN KORBAN 1965/66
SUMATERA BARAT
DALAM GAMBAR ( BAGIAN I )
Pengantar
Salah satu rujukan dari Temu Nasional Korban 65 yang diselenggarakan oleh YPKP 65 (Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966) pada tanggal 08 -11 Desember 2009 di Depok, Bogor ialah melanjutkan program penelitian atas Tragedi kemanusiaan maha dahsyat pada 1965/66 dimana jutaan manusia tidak berdosa dan tidak bersalah, putra-putri terbaik bangsa ini harus mati secara sia-sia, ratusan ribu dipenjarakan, diasingkan ke Pulau Nusa Kambangan dan Pulau Buru tanpa melalui proses hukum, sementara ratusan ribu lagi hidup di kamp-kamp penyiksaan di penjara Salemba, Jakarta, Cikokol Tangerang, Kalisosok Surabaya, Pulau Kemarau Palembang, dan di berbagai kamp-kamp konsentrasi di kota-kota di seluruh Indonesia . dll. Penelitian ini dimaksudkan untuk membuka kotak Pandora, siapa aktor di balik malapetaka nasional ini. Siapa yang salah harus mempertanggungjawabkannya di muka umum. Tidak boleh tidak, Negara harus mengakui adanya pelanggaran HAM berat ini. Sampai hari ini Negara seolah cuci tangan, sementara Korban selama hampir setengah abad hidup dalam ketidak-pastian hukum. YPKP 65 ingin buktikan, dan berikan fakta dan bukti keterlibatan militer dan aparat Negara dalam aksi pembunuhan massal ini. Dan, sebagai tujuan akhir ialah agar kita mau belajar dari sejarah.
Cukup sudah kekerasan.
Tegakkan Hukum.
Pulihkan Hak-Hak Korban
Bedjo Untung
Ketua YPKP 65
YAYASAN PENELITIAN KORBAN PEMBUNUHAN 1965/1966
Indonesian Institute for The Study of 1965/1966 Massacre
SK Menkumham No.C-125.HT.01.02.TH 2007 Tanggal 19 Januari 2007
Berita Negara RITanggal 5 Juni 2007 No.45
Jalan M.H.Thamrin Gang Mulia no. 21 Kp. Warung Mangga,
Panunggangan ,Kecamatan Pinang, Tangerang 15143, Banten, Indonesia
Phone : (+62 -21) 53121770, Fax 021-53121770 E-mail ypkp_1965@yahoo.com
Indonesian Institute for The Study of 1965/1966 Massacre
SK Menkumham No.C-125.HT.01.02.TH 2007 Tanggal 19 Januari 2007
Berita Negara RITanggal 5 Juni 2007 No.45
Jalan M.H.Thamrin Gang Mulia no. 21 Kp. Warung Mangga,
Panunggangan ,Kecamatan Pinang, Tangerang 15143, Banten, Indonesia
Phone : (+62 -21) 53121770, Fax 021-53121770 E-mail ypkp_1965@yahoo.com
Pada 24 September 2011 Tim Peneliti YPKP 65 yang terdiri dari Bedjo Untung, Eddi Sugiyanto dan Heru Suprapto berangkat dari Bandara Sukarno Hatta Jakarta pukul 10.30 dengan menumpang pesawat Batavia Air tiba di Bandar Udara Minangkabau Padang pukul 12.30. Dua penjemput dari YPKP 65 Wilayah Sumatera Barat yaitu Bapak Saunar Ahmad dan Bung Oki Muaz mengantarkan ke Bukittinggi dengan menggunakan kendaraan umum Bandara. Pukul 14.30 sampailah di Bukittinggi di rumah Ibu Nadiani (69 tahun), rumahnya ada di belakang kantor Telkom Bukitcangang, atau kira-kira 150 meter dari Museum Moh. Hatta, 500 meter dari Alun-alun Jam Gadang di tengah kota Bukittinggi.
Dengan duduk lesehan di atas karpet di rumah Ibu Nadiani yang cukup luas itu, telah banyak kawan-kawan Korban 65 yang menunggu meski pun belum saatnya mengadakan pertemuan. Mereka adalah Pak Samin dari YPKP 65 Riau, Bu Samin, Bu Yulidar, Bu Rosnina, Bu Masnar, dan Bu Manismar dari Bukittinggi. Tampak dalam gambar Pak Saunar Ahmad yang menjemput, Bung Eddi Sugiyanto anggota tim peneliti dari Jakarta . Membelakangi kamera adalah Ibu Nadiani si pemilik rumah yang juga sebagai ketua YPKP 65 Sumatera Barat.
Bapak-bapak dari berbagai kota di wilayah Sumatera Barat telah berdatangan dan menginap di rumah Ibu Nadiani ini. Ada yang datang dari Pesisir Selatan, Painan yang lama perjalanan mencapai 5-6 jam, ada yang dari Padang Pariaman, Payakumbuh, Lubuk Basung. Mereka datang ingin mendengar informasi perkembangan mau pun kemajuan perjuangan YPKP 65 dari Jakarta .
Setalah istirahat sejenak, untuk mengefektifkan waktu, wawancara pun dimulai.
Ibu Jamiaan (72 tahun ) mengisahkan pengalaman memilukan ketika ia bersama anak laki-lakinya yang masih berumur 7 tahun harus menyelamatkan diri dari kejaran massa dan militer. Ia masuk hutan belukar dan menuruni lurah (lembah) curam selama hampir 40 hari. Dengan penuh ketakutan karena hampir semua orang yang dicurigai sebagai anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia ) bila tertangkap pasti dibunuh atau disiksa secara kejam. Ibu Jamian dan anaknya berlari dan terus berlari di siang hari. Dan, bila malam tiba ia dan anaknya harus tidur di mana saja, di tempat yang ia rasa aman, di bawah pohon besar, di semak-semak, di rerumputan. Sampai pada suatu sore menjelang malam, di tengah hutan yang gelap gulita ia mendapatkan sebuah gua yang ia rasa aman dan terasa hangat. Ia dan anaknya duduk merebahkan diri dengan beralaskan tanah berbatu dalam gua itu. Tidak jauh dari tempat di mana ia merebahkan diri, ada sorotan biru bercahaya, ternyata mata seekor harimau. Nampak dari kejauhan harimau itu merasa terkejut ada tamu yang tak diundang memasuki goanya. Badan harimau itu beringsut dinaikkan, melengkung dengan bulunya tegak berdiri memandangi Ibu Jamian bersama anaknya. Tentu saja, ibu Jamian dan anaknya merasa ketakutan. Namun, dengan pasrah dan tenang bu Jamian berujar, “ Kyai, berilah aku pertolongan, aku dikejar, diburu untuk dibunuh, padahal aku tidak bersalah apa pun. Bila memang aku bersalah dan memang aku harus menemui ajalku, aku rela mati untukmu , ya kyai, lindungi aku, berilah pertolongan, aku dan anakku untuk menumpang bermalam berlindung di tempat ini”. Sang raja hutan itu mendengar apa yang diucapkan oleh Bu Jamian dengan mata terus memandanginya. Dengan sedikit menundukkan kepalanya dan badannya, tiba-tiba macan itu melompatinya dan keluar dari goa itu. Legalah Ibu Jamian bersama anaknya. Ia tidak mengerti, mengapa sang macan tidak menerkamnya. Ternyata, sang harimau lebih bijaksana dari orang-orang histeris yang diprovokasi militer untuk memburu sesama manusia.
Bapak Jamian (53 tahun ) anak Bu Jamiaan. menceritakan pengalamannya, ketika itu berusia 7 tahun bersama Bu Jamiaan, ibunya . Selama hampir 40 hari hanya makan dedaunan atau pun rumput yang bisa ia makan. Minum dari rembesan air yang membasahi pepohonan dengan cara menempelkan tangannya kemudian menghisapnya.
Seorang Korban 65 dari Painan menceritakan pengalaman pembunuhan massal di daerah Pesisir Selatan, Painan, Sumatera Barat. Ada yang dikubur hidup-hidup, ada yang dibakar, nyaris di sepanjang Pesisir Selatan Painan banyak ditemukan lokasi Kuburan massal. Ada kisah seorang anak perempuan, anak anggota fungsionaris PKI yang diperkosa oleh militer kemudian dibunuhnya. Catatan hasil penelitian di Painan ada di kantor YPKP 65 Sumatera barat.
Bu Saimaan mengisahkan pengalamannya ketika dikejar militer dan masuk hutan.
Minggu 25 September 2011 jam 07 berjalan pagi ke Alun-alun Jam Gadang di pusat kota Bukittinggi. Nampak membelakangi kamera bapak Saunar Ahmad, Bedjo Untung dan Eddi Sugiyanto. Heru Suprapto tidak tampak dalam gambar.
Relawan YPKP 65 sudah mulai berdatangan pada hari Minggu 25 September 2011 dan acara Temu Korban 65 se wilayah Sumatera Barat segera dimulai. Tampak dalam gambar Bapak Anistar seorang Guru Silat yang pernah dikirim ke Viet Nam dan Tiongkok dalam rangka persahabatan Indonesia Vietnam dan Indonesia Tiongkok oleh Bung Karno Presiden RI yang pertama.. Bapak Anistar sedang berbincang dengan Bedjo Untung. Karena kegiatannya itu, Bapak Anistar ditangkap, dijebloskan ke tahanan selama bertahun-tahun oleh rejim militer Orde Baru Suharto dengan alasan dan tuduhan yang tidak masuk akal dan aneh: “ Kamu simpan senjata dari China , ya”?
Acara pun dimulai tepat jam 10.00 dengan ucapan selamat datang oleh Ibu Hajah Azimar sebagai Pembawa Acara , diteruskan dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran oleh Bu Manismar dan Bu Jamiaan.
Bu Manismar (74 tahun) mantan anggota Gerwani Kota Bukittinggi (gambar sebelah kiri), pernah ikut menentang terbentuknya Dewan Banteng yang ingin memisahkan diri dari Negara kesatuan RI. Karena keberaniannya itulah beliau ditangkap oleh tentara-tentara pendukung Dewan Banteng/ PRRI. Kini ibu Manismar sedang membacakan ayat-ayat suci al Quran. Bu Manismar aktif sebagi motor penggerak YPKP 65 di Sumatera Barat bersama Ibu Nadiani dan kawan-kawan untuk melakukan penelitian dan perjuangan menuntut keadilan, penegakan Hak Asasi Manusia dan Demokrasi. Gambar sebelah kanannya ialah Ibu Jamiaan yang pernah tersesat di dalam gua Harimau di hutan Sumatera Barat.
Oki Muaz (25 th ) putra Bapak Abdul Muaz dari Pesisir Selatan, Painan memberi kata sambutan dalam acara pertemuan di Minggu pagi itu dalam kapasitas sebagai Ketua Pelaksana Pertemuan. Ia termasuk salah satu anggota pengurus YPKP 65 wilayah Sumatera Barat. Ia bertekad ingin terus melanjutkan perjuangan cita-cita para bapak-bapak dan ibu-ibu Korban 65, para perintis kemerdekaan, yaitu perjuangan untuk pembebasan rakyat dari penindasan manusia oleh manusia, penindasan bangsa oleh bangsa lain.
Ibu Nadiani (69 tahun ) Ketua YPKP 65 Sumatera Barat memberikan laporan kerja, pengalaman menemui korban 65 yang tempatnya jauh terpencar-pencar, terkadang mendaki bukit dan menuruni lurah. Ini ia lakukan bersama relawan YPKP 65 yang lain dengan bermodalkan semangat kemandirian, karena yakin perjuangan YPKP 65 adalah benar yaitu untuk kemanusiaan, keadilan dan kebenaran dalam pengabdian untuk rakyat yang termarginalkan. Ia pernah menjadi anggota Palang Merah Indonesia untuk membantu korban perang kemerdekaan, khususnya ketika operasi pembasmian pemberontak PRRI di Sumatera Barat. Pada tahun 1965 ia bekerja sebagai tenaga pengajar dan berstatus sebagai pegawai negeri. Namun, karena ia dituduh sebagai aktivis Gerwani ,maka ia ditahan. Kini ia tidak memperoleh hak-hak pensiun yang semestinya ia peroleh. .
Seorang Relawan YPKP 65 Pesisir Selatan, Bapak Ilyas Rajo Lelo (71 tahun). Ia aktif mencari informasi keberadaan lokasi kuburan massal di daerah Pesisir Selatan, menemui penduduk kampung setempat dan mencatat apa yang diceritakan para saksi, kemudian mengecek dengan sumber berita yang lain, dan akhirnya menemukan lokasi kuburan massal yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan di sepanjang pantai. Pak Ilyas pernah ditahan pada 1965/1966, dipekerjakan secara paksa Ia adalah mantan tentara Angkatan Darat yang loyal terhadap Prsiden Sukarno, pernah aktif membasmi gerombolan separatis PRRI/Permesta. Kini ia hidup mandiri dengan membuka warung kecil di pasar Pesisir Selatan dengan berjualan obat-obatan tradisional, jahe, kencur, lempuyang, kunyit, dll.
Pak Samin Ketua YPKP 65 Pakan Baru, Riau sedang menyampaikan kata smbutannya berkenaan kunjungan kerja YPKP 65 pusat ke Bukittinggi untuk tugas-tugas penelitian, sosialisasi dan berbagi informasi tentang apa yang telah dilakukan oleh YPKP 65 pusat. Untuk Korban 65 di Riau umumnya sudah lanjut usia, sakit-sakitan dan mengalami trauma berat sehingga sulit untuk diajak berjuang kembali untuk merebut hak-hak yang selama ini terampas secara tidak sah oleh Negara.
Bapak Mora Harahap ( 70 tahun ) seorang Kawan dari Rao, Pasaman Timur,Sumatera Barat mengisahkan bahwa seluruh orang di desanya yang kebanyakan adalah pengikut Bung Karno dan simpatisan Partai Komunis Indonesia dibunuh sampai ke anak, cucu dan istrinya. Orang-orang yang selamat ialah karena lari ke hutan atau ke luar daerah yang dianggap aman. Saudara atau pun kerabat tidak bisa beri perlindungan, karena kalau ini ketahuan oleh aparat, mereka juga akan ditangkap atau pun dibunuh oleh militer.
Fitrah (24 tahun ) seorang anak muda dari Riau juga tidak ketinggalan, bersemangat untuk mmbantu kerja-kerja YPKP 65: adakan penelitian, pendokumentasian korban, menandai kuburan massal, mencatat tempat-tempat penyiksaan yang dilakukan aparat militer terhadap para tahanan yang dituduh anggota Partai Komunis Indonesia, juga bersama korban pelanggaran HAM lainnya ikut berjuang untuk memperoleh pemulihan haknya.
Bedjo Untung Ketua YPKP 65 pusat dari Jakarta memaparkan strategi dan program perjuangan YPKP 65 ke depan menghadapai tantangan berat; Para Korban 65 sudah lanjut usia, banyak yang sudah meninggal dunia, hidup dari keterbatasan ekonomi, tidak miliki akses ekonomi, politik, hidup penuh diskriminasi. Karena itu menyerukan kepada kawan-kawan Korban 65 yang tersisa untuk melakukan regenerasi.Di bidang penelitian agar terus dilanjutkan, kepada setiap kawan kiranya perlu menuliskan memoir peristiwa Tragedi 1965 agar dapat dijadikan pelajaran bagi generasi mendatang.Penguasa orde baru masih terus lakukan pembodohan dan pemalsuan sejarah. Tugas kita untuk melakukan penulisan kembali sejarah yang digelapkan. Para mantan Tahanan Politik 1965 tidak bersalah. Komnas HAM telah mengisyaratkan hasil investigasinya yang akan diumumkan akhir desember 2011 bahwa Tragedi Kemanusiaan Peristiwa 1965/66 adalah kejahatan kemanusiaan, di mana Negara telah lakukan serangkaian pembiaran atas terjadinya pembunuhan massal 1965-1966.
Sebelum pertemuan berakhir, terlebih dahulu diadakan tanya jawab oleh para relawan YPKP 65 se Sumatera Barat dan dijawab oleh delegasi dari pusat : Bung Eddi Sugiyanto, Heru Suprapto dan Bedjo Untung. Pertemuan berakhir pada pukul 15.00 dilanjutkan dengan foto bersama di halaman depan rumah Ibu Nadiani. BERSAMBUNG Mengunjungi Lokasi Pembunuhan Massal di Lubuk Basuang, Pesisir Selatan, Painan, Sumatra Barat
Gambar 1
Pada 24 September 2011 Tim Peneliti YPKP 65 yang terdiri dari Bedjo Untung, Eddi Sugiyanto dan Heru Suprapto berangkat dari Bandara Sukarno Hatta Jakarta pukul 10.30 dengan menumpang pesawat Batavia Air tiba di Bandar Udara Minangkabau Padang pukul 12.30. Dua penjemput dari YPKP 65 Wilayah Sumatera Barat yaitu Bapak Saunar Ahmad dan Bung Oki Muaz mengantarkan ke Bukittinggi dengan menggunakan kendaraan umum Bandara. Pukul 14.30 sampailah di Bukittinggi di rumah Ibu Nadiani (69 tahun), rumahnya ada di belakang kantor Telkom Bukitcangang, atau kira-kira 150 meter dari Museum Moh. Hatta, 500 meter dari Alun-alun Jam Gadang di tengah kota Bukittinggi.
Gambar 2
Dengan duduk lesehan di atas karpet di rumah Ibu Nadiani yang cukup luas itu, telah banyak kawan-kawan Korban 65 yang menunggu meski pun belum saatnya mengadakan pertemuan. Mereka adalah Pak Samin dari YPKP 65 Riau, Bu Samin, Bu Yulidar, Bu Rosnina, Bu Masnar, dan Bu Manismar dari Bukittinggi. Tampak dalam gambar Pak Saunar Ahmad yang menjemput, Bung Eddi Sugiyanto anggota tim peneliti dari Jakarta. Membelakangi kamera adalah Ibu Nadiani si pemilik rumah yang juga sebagai ketua YPKP 65 Sumatera Barat.
Gambar 3
Bapak-bapak dari berbagai kota di wilayah Sumatera Barat telah berdatangan dan menginap di rumah Ibu Nadiani ini. Ada yang datang dari Pesisir Selatan, Painan yang lama perjalanan mencapai 5-6 jam, ada yang dari Padang Pariaman, Payakumbuh, Lubuk Basung. Mereka datang ingin mendengar informasi perkembangan mau pun kemajuan perjuangan YPKP 65 dari Jakarta.
Gambar 4
Setalah istirahat sejenak, untuk mengefektifkan waktu, wawancara pun dimulai.
Gambar 5
Ibu Jamiaan (72 tahun ) mengisahkan pengalaman memilukan ketika ia bersama anak laki-lakinya yang masih berumur 7 tahun harus menyelamatkan diri dari kejaran massa dan militer. Ia masuk hutan belukar dan menuruni lurah (lembah) curam selama hampir 40 hari. Dengan penuh ketakutan karena hampir semua orang yang dicurigai sebagai anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) bila tertangkap pasti dibunuh atau disiksa secara kejam. Ibu Jamian dan anaknya berlari dan terus berlari di siang hari. Dan, bila malam tiba ia dan anaknya harus tidur di mana saja, di tempat yang ia rasa aman, di bawah pohon besar, di semak-semak, di rerumputan. Sampai pada suatu sore menjelang malam, di tengah hutan yang gelap gulita ia mendapatkan sebuah gua yang ia rasa aman dan terasa hangat. Ia dan anaknya duduk merebahkan diri dengan beralaskan tanah berbatu dalam gua itu. Tidak jauh dari tempat di mana ia merebahkan diri, ada sorotan biru bercahaya, ternyata mata seekor harimau. Nampak dari kejauhan harimau itu merasa terkejut ada tamu yang tak diundang memasuki goanya. Badan harimau itu beringsut dinaikkan, melengkung dengan bulunya tegak berdiri memandangi Ibu Jamian bersama anaknya. Tentu saja, ibu Jamian dan anaknya merasa ketakutan. Namun, dengan pasrah dan tenang bu Jamian berujar,
“ Kyai, berilah aku pertolongan, aku dikejar, diburu untuk dibunuh, padahal aku tidak bersalah apa pun. Bila memang aku bersalah dan memang aku harus menemui ajalku, aku rela mati untukmu , ya kyai, lindungi aku, berilah pertolongan, aku dan anakku untuk menumpang bermalam berlindung di tempat ini”.
Sang raja hutan itu mendengar apa yang diucapkan oleh Bu Jamian dengan mata terus memandanginya. Dengan sedikit menundukkan kepalanya dan badannya, tiba-tiba macan itu melompatinya dan keluar dari goa itu. Legalah Ibu Jamian bersama anaknya. Ia tidak mengerti, mengapa sang macan tidak menerkamnya.
Ternyata, sang harimau lebih bijaksana dari orang-orang histeris yang diprovokasi militer untuk memburu sesama manusia.
Gambar 6
Bapak Jamian (53 tahun ) anak Bu Jamiaan. menceritakan pengalamannya, ketika itu berusia 7 tahun bersama Bu Jamiaan, ibunya . Selama hampir 40 hari hanya makan dedaunan atau pun rumput yang bisa ia makan. Minum dari rembesan air yang membasahi pepohonan dengan cara menempelkan tangannya kemudian menghisapnya.
Gambar 7
Selama wawancara berlangsung, bapak-bapak dan ibu-ibu Korban 65 yang lain dengan seksama mendengarkan dan mengikuti kish-kisah yang diceritakan oleh para korban.
Gambar 8
Seorang Korban 65 dari Painan menceritakan pengalaman pembunuhan massal di daerah Pesisir Selatan, Painan, Sumatera Barat. Ada yang dikubur hidup-hidup, ada yang dibakar, nyaris di sepanjang Pesisir Selatan Painan banyak ditemukan lokasi Kuburan massal. Ada kisah seorang anak perempuan, anak anggota fungsionaris PKI yang diperkosa oleh militer kemudian dibunuhnya. Catatan hasil penelitian di Painan ada di kantor YPKP 65 Sumatera barat.
Gambar 9
Bu Saimaan mengisahkan pengalamannya ketika dikejar militer dan masuk hutan.
Gambar 10
Minggu 25 September 2011 jam 07 berjalan pagi ke Alun-alun Jam Gadang di pusat kota Bukittinggi. Nampak membelakangi kamera bapak Saunar Ahmad, Bedjo Untung dan Eddi Sugiyanto. Heru Suprapto tidak tampak dalam gambar.
Gambar 11
Relawan YPKP 65 sudah mulai berdatangan pada hari Minggu 25 September 2011 dan acara Temu Korban 65 se wilayah Sumatera Barat segera dimulai. Tampak dalam gambar Bapak Anistar seorang Guru Silat yang pernah dikirim ke Viet Nam dan Tiongkok dalam rangka persahabatan Indonesia Vietnam dan Indonesia Tiongkok oleh Bung Karno Presiden RI yang pertama.. Bapak Anistar sedang berbincang dengan Bedjo Untung. Karena kegiatannya itu, Bapak Anistar ditangkap, dijebloskan ke tahanan selama bertahun-tahun oleh rejim militer Orde Baru Suharto dengan alasan dan tuduhan yang tidak masuk akal dan aneh: “ Kamu simpan senjata dari China, ya”?
Gambar 12
Acara pun dimulai tepat jam 10.00 dengan ucapan selamat datang oleh Ibu Hajah Azimar sebagai Pembawa Acara , diteruskan dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran oleh Bu Manismar dan Bu Jamiaan.
Gambar 13
Bu Manismar (74 tahun) mantan anggota Gerwani Kota Bukittinggi (gambar sebelah kiri), pernah ikut menentang terbentuknya Dewan Banteng yang ingin memisahkan diri dari Negara kesatuan RI. Karena keberaniannya itulah beliau ditangkap oleh tentara-tentara pendukung Dewan Banteng/ PRRI. Kini ibu Manismar sedang membacakan ayat-ayat suci al Quran. Bu Manismar aktif sebagi motor penggerak YPKP 65 di Sumatera Barat bersama Ibu Nadiani dan kawan-kawan untuk melakukan penelitian dan perjuangan menuntut keadilan, penegakan Hak Asasi Manusia dan Demokrasi. Gambar sebelah kanannya ialah Ibu Jamiaan yang pernah tersesat di dalam gua Harimau di hutan Sumatera Barat.
Gambar 14
Oki Muaz (25 th ) putra Bapak Abdul Muaz dari Pesisir Selatan, Painan memberi kata sambutan dalam acara pertemuan di Minggu pagi itu dalam kapasitas sebagai Ketua Pelaksana Pertemuan. Ia termasuk salah satu anggota pengurus YPKP 65 wilayah Sumatera Barat. Ia bertekad ingin terus melanjutkan perjuangan cita-cita para bapak-bapak dan ibu-ibu Korban 65, para perintis kemerdekaan, yaitu perjuangan untuk pembebasan rakyat dari penindasan manusia oleh manusia, penindasan bangsa oleh bangsa lain.
Gambar 15
Ibu Nadiani (69 tahun ) Ketua YPKP 65 Sumatera Barat memberikan laporan kerja, pengalaman menemui korban 65 yang tempatnya jauh terpencar-pencar, terkadang mendaki bukit dan menuruni lurah. Ini ia lakukan bersama relawan YPKP 65 yang lain dengan bermodalkan semangat kemandirian, karena yakin perjuangan YPKP 65 adalah benar yaitu untuk kemanusiaan, keadilan dan kebenaran dalam pengabdian untuk rakyat yang termarginalkan.
Ia pernah menjadi anggota Palang Merah Indonesia untuk membantu korban perang kemerdekaan, khususnya ketika operasi pembasmian pemberontak PRRI di Sumatera Barat. Pada tahun 1965 ia bekerja sebagai tenaga pengajar dan berstatus sebagai pegawai negeri. Namun, karena ia dituduh sebagai aktivis Gerwani ,maka ia ditahan. Kini ia tidak memperoleh hak-hak pensiun yang semestinya ia peroleh.
.
Gambar 16
Seorang Relawan YPKP 65 Pesisir Selatan, Bapak Ilyas Rajo Lelo (71 tahun). Ia aktif mencari informasi keberadaan lokasi kuburan massal di daerah Pesisir Selatan, menemui penduduk kampung setempat dan mencatat apa yang diceritakan para saksi, kemudian mengecek dengan sumber berita yang lain, dan akhirnya menemukan lokasi kuburan massal yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan di sepanjang pantai. Pak Ilyas pernah ditahan pada 1965/1966, dipekerjakan secara paksa Ia adalah mantan tentara Angkatan Darat yang loyal terhadap Prsiden Sukarno, pernah aktif membasmi gerombolan separatis PRRI/Permesta. Kini ia hidup mandiri dengan membuka warung kecil di pasar Pesisir Selatan dengan berjualan obat-obatan tradisional, jahe, kencur, lempuyang, kunyit, dll.
Gambar 17
Pak Samin Ketua YPKP 65 Pakan Baru, Riau sedang menyampaikan kata smbutannya berkenaan kunjungan kerja YPKP 65 pusat ke Bukittinggi untuk tugas-tugas penelitian, sosialisasi dan berbagi informasi tentang apa yang telah dilakukan oleh YPKP 65 pusat. Untuk Korban 65 di Riau umumnya sudah lanjut usia, sakit-sakitan dan mengalami trauma berat sehingga sulit untuk diajak berjuang kembali untuk merebut hak-hak yang selama ini terampas secara tidak sah oleh Negara.
Gambar 18
Bapak Mora Harahap ( 70 tahun ) seorang Kawan dari Rao, Pasaman Timur,Sumatera Barat mengisahkan bahwa seluruh orang di desanya yang kebanyakan adalah pengikut Bung Karno dan simpatisan Partai Komunis Indonesia dibunuh sampai ke anak, cucu dan istrinya. Orang-orang yang selamat ialah karena lari ke hutan atau ke luar daerah yang dianggap aman. Saudara atau pun kerabat tidak bisa beri perlindungan, karena kalau ini ketahuan oleh aparat, mereka juga akan ditangkap atau pun dibunuh oleh militer.
Gambar 19
Fitrah (24 tahun ) seorang anak muda dari Riau juga tidak ketinggalan, bersemangat untuk mmbantu kerja-kerja YPKP 65: adakan penelitian, pendokumentasian korban, menandai kuburan massal, mencatat tempat-tempat penyiksaan yang dilakukan aparat militer terhadap para tahanan yang dituduh anggota Partai Komunis Indonesia, juga bersama korban pelanggaran HAM lainnya ikut berjuang untuk memperoleh pemulihan haknya.
Gambar 20
Bedjo Untung Ketua YPKP 65 pusat dari Jakarta memaparkan strategi dan program perjuangan YPKP 65 ke depan menghadapai tantangan berat; Para Korban 65 sudah lanjut usia, banyak yang sudah meninggal dunia, hidup dari keterbatasan ekonomi, tidak miliki akses ekonomi, politik, hidup penuh diskriminasi. Karena itu menyerukan kepada kawan-kawan Korban 65 yang tersisa untuk melakukan regenerasi.Di bidang penelitian agar terus dilanjutkan, kepada setiap kawan kiranya perlu menuliskan memoir peristiwa Tragedi 1965 agar dapat dijadikan pelajaran bagi generasi mendatang.Penguasa orde baru masih terus lakukan pembodohan dan pemalsuan sejarah. Tugas kita untuk melakukan penulisan kembali sejarah yang digelapkan. Para mantan Tahanan Politik 1965 tidak bersalah. Komnas HAM telah mengisyaratkan hasil investigasinya yang akan diumumkan akhir desember 2011 bahwa Tragedi Kemanusiaan Peristiwa 1965/66 adalah kejahatan kemanusiaan, di mana Negara telah lakukan serangkaian pembiaran atas terjadinya pembunuhan massal 1965-1966.
Gambar 21
Sebelum pertemuan berakhir, terlebih dahulu diadakan tanya jawab oleh para relawan YPKP 65 se Sumatera Barat dan dijawab oleh delegasi dari pusat : Bung Eddi Sugiyanto, Heru Suprapto dan Bedjo Untung. Pertemuan berakhir pada pukul 15.00 dilanjutkan dengan foto bersama di halaman depan rumah Ibu Nadiani.
BERSAMBUNG
Mengunjungi Lokasi Pembunuhan Massal di
Lubuak Basuang, Pesisir Selatan, Painan, Sumatra Barat
Subscribe to:
Posts (Atom)